Potret Pendidikan Indonesia di Tengah Perkembangan Teknologi

Dalam sambutannya di peringatan Hari Pendidikan Nasional yang dirilis di situs resmi Kemendikbud, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendi, mengklaim mutu pelayanan pendidikan di Indonesia sudah semakin baik dalam beberapa tahun terakhir ini. Dalam sambutannya ia menyoroti pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan pemerintah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pelayanan pendidikan.
"Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memberi perhatian khusus untuk pendidikan di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal. Bahkan, Kemendikbud memberi perhatian khusus pada pendidikan anak-anak Indonesia yang berada di luar batas negara,seperti anak-aak keturunan Indonesia yang ada di Sabah dan Serawak, Negara bagian Malaysia," ujarnya.
Pemerataan infrastruktur dan SDM
Senada dengan Muhadjir, Rosdewi Malau, salah satu guru di SMPN 20 Jakarta, juga merasakan hal yang sama. Ia berpendapat untuk ketersediaan infrastruktur dan fasilitas belajar mengajar di kota-kota besar sudah memadai. Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan infrastruktur dan ketersedian SDM di daerah-daerah terpecil demi meratanya mutu pendidikan di Indonesia.
"Kalau di kota sendiri sih sudah bagus,katakanlah daerah-daerah yang sudah terjamah teknologi dan fasilitas yang ada saya rasa sudah bagus. Ya itu dia SDM-nya juga harus diperbaiki, terutama di daerah dengan cara ya itu tadi, gajinya mungkin, fasilitasnya, semua aspek diperhatikan harus," ujar Rosdewi saat diwawancarai DW Indonesia.
Dengan tuntutan perkembangan zaman yang cepat, guru yang sudah mengajar dari tahun 1984 ini, sadar betul para pendidik harus bisa beradaptasi dengan perkembangan tersebut. Apalagi dari sisi teknologi, jika dibandingkan dulu dimana guru harus mengajar dengan metode konservatif, sebut saja papan tulis, kapur, buku-buku pelajaran yang tebal, namun kini dengan kehadiran teknologi seperti komputer, proyektor, dan internet dirasanya sangat efektif dalam kegiatan belajar mengajar. Namun Rosdewi menekankan faktor pengawasan orang tua di rumah juga menjadi hal mutlak, apalagi di usia-usia tersebut siswa sangat rentan terhadap pengaruh luar. Sehingga pengaruh teknologi ataupun internet tidak memberikan dampak yang buruk terhadap perkembangan belajar siswa.
"Kita sering bicara dengan orang tua (siswa), kita tidak mungkin menghambat teknologi itu. Tapi bagaimana cara pengawasannya, jadi mestinya orang tua dari rumah harus tahu apa yang dibaca anaknya, apa yang dilihat, karena kalau kita mau menutup teknologi ini juga malah menghambat, anak-anak ini kan akan berkembang, ga kita saja mereka kan perlu juga, perlu tahu. Cuma ya menurut saya pengawasan dari rumah harus lebih ketat," jelasnya.
Seperti diketahui, demi menyongsong Revolusi Industri 4.0 pemerintah mulai menggeser fokusnya dari pembangunan infrastruktur ke pembangunan sumber daya manusia. Muhadjir pun berpendapat perkembangan teknologi yang semakin canggih dapat mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan karakter siswa. "Peserta didik harus memiliki karakter dan jati diri bangsa di tengah perubahan global yang bergerak cepat," ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.
sumber: www.news.detik.com
No comments:
Post a Comment